TRANSFORMASI PENDIDIKAN
ISLAM MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERKARAKTER
Karya
Tulis Ilmiah
Oleh
:
Nama
: Zadit Taqwa
NIM
: 112 311
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH
TAHUN 2014
TRANSFORMASI PENDIDIKAN
ISLAM MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERKARAKTER
A. PENDAHULUAN
Pada zaman yang
semakin maju dan berkembang, memberi banyak sekali kontribusi dalam perkembangan
dunia pendidikan saat ini.Seperti halnya contoh berkembangnya teknologi
sehingga memudahkan seorang pendidik, peserta didik mengakses sebuah materi
melalui internet.Ini menunjukkan bahwa perkembangan zaman mampu berperan
positif dalam pendidikan. Tetapi perkembang pesatnya zaman juga memberi banyak
masalah-masalah baru dalam pendidikan tersebut,
pada
hakikatnya kalau kita membicarakan masalah pendidikan tidak beda dengan masalah
yang dialami oleh manusia, sebab pendidikanmerupakan hasil pemikiran yang
dilakukan oleh dan untuk manusia guna mencapaiaktualisasi diri di dunia.
Sebagai produk pemikiran manusia, pendidikan bersifat relativedan sangat
tergantung pada kemampuan dan kualitas perumusnya. Di sisi lain, sebaik apapun
hasil pemikiran manusia tentang pendidikan bersifatrelatif, sebab ia sangat
tergantung pada konteks sosial dan tingkat pengalaman danpengetahuan manusia,
sementara manusia sendiri bersifat terbatas.
Pendidikan
merupakan proses yang dilakukanoleh setiap individu menuju ke arah yang lebih
baik sesuai dengan potensikemanusiaannya, sampai-sampai ada hadist yang
menyuruh manusia untuk mencari pendidikan sampai negeri Cina. Dalam
Islampendidikan diperlukan untuk membantu meneguhkan eksistensi dalam
mengembanfungsi 'abid dan khalifah.
Eksistensi manusia sangat ditentukan oleh sejauh mana iamampu menjalankan
kedua fungsi tersebut. Selain itu, pendidikan pada hakikatnyamerupakan proses
untuk memanusiakan manusia. Oleh
karena itu,semua unsur-unsuryang
ada dalam praktek pendidikan mestinya selalu memperhatikanhakikat manusia
sebagai makhluk yang unik dan multidimensional, baik sebagaimakhluk Tuhan
dengan fitrah yang dimiliki, sebagai makhluk individu yang khasdengan berbagai
potensinya, dan sebagai makhluk sosial yang hidup dalam realitassosial yang
majemuk. Untuk itu, pemahaman yang utuh tentang karakter manusiaharus dilakukan
sebelum proses pendidikan dilaksanakan.
Namun demikian,
dalam realitasnya banyak praktek pendidikan yang tidaksesuai dengan misi di
atas. Dalam prakteknya, pendidikan tidak berfungsi sebagaiproses transformasi
pada diri peserta didik dan masyarakat. Bahkan, praktekpendidikan seringkali
menjadi biang terjadinya problem sosial. Hal ini antara laindapat dilihat dari
adanya kenyataan bahwa proses pendidikan yang ada cenderungberjalan monoton,
indoktrinatif, sentralistis, mekanis,verbalis, kognitif, dan misi pendidikan
telah misleading. Tidak heran jika ada kesanbahwa praktek dan proses pendidikan
Islam steril dari konteks realitas, sehingga tidakmampu memberikan kontribusi
yang jelas terhadap berbagai problem yang muncul.Praktek pendidikan Islam yang
dianggap misleading ini merupakan bukti bahwa belumada pemahaman yang memadai
tentang konsep dan implementasi pendidikan Islamdalam era
kontemporer.Pendidikan Islam banyak mengalami reduksi, baik dari aspekmakna
maupun prakteknya.
Dan baru-baru
ini banyak berita yang mencengangkan dan menyedihkan, yaitudengan banyaknyaberita
dan kasus pendidik atau guru yang melakukan perbuatan yang tidak pantas seperti
halnya melakukan perbuatan sodomi kepada siswanya. ini menggambarkan bagaimana semakin
kritis akhlak seorang pendidik, padahal pendidik atau guru adalah figur bagi
seorang siswa, istilah guru dalam orang jawa kepanjangannya adalah “digugu lan ditiru”, bagaimana kita meniru
mereka kalau akhlak mereka sepeti itu.
Dari permasalahan tersebut maka untuk
menanggulangi akhlak yang semakin rapu dan hilang, dunia pendidikan mencoba
melakukan trobosan dengan menggunakan pendidikan berkarakter.Karena melihat
realitas sekarang ini pendidikan yang hanya mementingkan kognitif semata, pada
selain kognotif yang tidak kalah pentingnya adalah ranah afeksi sehingga
nantinya dapat dituangkan melalui ranah psikomotor. Dari latar belakang
tersebut penulis akan membahas mengenai Transformasi
Pendidikan Islam Menuju Pendidikan Islam Berkarakter.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Untuk membatasi
permasalahan yang dibahas dan tidak melebar kepermasalahan yang tidak
diinginkan, penulis menyusun beberapa rumusan masalah, yaitu :
1. Apa
pengertian transformasi pendidikan islam ?
2. Apa
pengertian pendidikan karakter ?
3. Bagaimana
pendidikan islam ditransformasikan menuju pendidikan berkarakter ?
C.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Transformasi Pendidikan Islam
Pendidikan Islam mempunyai cita-cita yaitu
terbentuknya manusia yang beriman, cerdas, kreatif, dan memiliki keluhuran
budhi.Tugas utama pendidikan adalah upaya secara sadar untuk mengantarkan
manusia pada cita-cita tersebut, dan pendidikan Islam juga memiliki fungsi
mengarahkan kehidupan dan keberagamaan manusia kearah kehidupan Islami yang
ideal.[1]
Jika upaya pendidikan mengalami kegagalan dalam
mengantarkan manusia kearah cita-cita manusiawi yang bersandar pada nilai-nilai
ke-Tuhanan, maka yang akan terjadi adalah tumbuhnya prilaku-prilaku negatif dan
destruktif, seperti kekerasan, radikalisme, fundamentalisme, dan terorisme,
juga ketidakpedulian sosial, pada realitasnya sekarang ini perilaku-perilaku
negatif tersebut sudah semakin banyak, ini menunjukkan bahwa pendidikan islam
belum berhasil.
Padahal dalam konteks inilah, pendidikan Islam
sebagai salah satu media penyadaran umat, dihadapkan pada problem begaimana
mengembangkan sebuah pola pendidikan yang transformatif, sebuah pola pendidikan
yang mampu memberikan pemahaman dan transformasi pembelajaran yang tidak saja
bertumpu pada transfer pengetahuan saja (kognitif), tetapi juga transef nilai
(afeksi). Pendidikan transformatif juga menghasikan akan pola pembelajaran yang
hanya berpusat pada guru (teacher centerd), tetapi lebih pada pola
pembelajaran yang memberikan “ruang” bagi peserta didik untuk lebih
mengaktualisasikan potensi akademisnya secara maksimal.
Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses
pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan sebuah dasar
yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi
pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam konteks ini dasar yang
menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan
kekuatan yang dapat menghantarkan peserta didik kearah pencapaian pendidikan.[2]
Adapun landasan dasar pendidikan Islam utamanya
terdiri atas tiga macam, yaitu :
a. al-Quran
al-Quran sebagai kitab undang-undang, hujjah,
dan petunjuk selayaknya kalau didalamnya mengandung banyak hal menyangkut
segenap kehidupan manusia.
b. as
Sunah
As Sunah adalah semua sabda atau perbuatan
Rasulullah SAW atau persetujuan beliau terhadap perkataan atau perbuatan
sahabatnya karena dinilainya baik.As Sunah dijadikan sebagai landasan dasar
pendidikan Islam yang kedua Karena Rasulullah SAW meletakkan pendidikan Islam
semenjak beliau diangkat menjadi utusan Allah.misalnya beliau telah mengajarkan
cara membaca dan menghafalkan kitab suci al-Quran beserta pengalamannya.
Mendidik wudlu, solat, dzikir dan berdoa.Dan sebagainya.[3]
c. Ijtihad
Ijtihad sebagai landasan dasar yang dimaksud adalah
usaha-usaha pemahaman yang serius dari kaum muslimin terhadap al-Quran dan as
Sunah sehingga memunculkan kreativitas yang cemerlang di bidang pendidikan
Islam.Atau bahkan karena adanya tantangan zaman dan desakan kebutuhan sehingga
melahirkan ide-ide fungsional yang gemilang.[4]
Transformasi pendidikanislam, merupakan transformasi
berupa perubahanaturan main dalam hal konsep dan praktek.
Walaupun begitu dalam kenyataannya pendidikan islam belum mampu melakukan
transformasi tersebut, dengan masih banyaknya akhlak peserta didik yang semakin
berkurang.
2.
Pengertian pendidikan karakter
Menurut Hamdani Hamid dan Beni Ahmad yang dikutip
dari Fuad Wahab
istilah karakter sama dengan istilah akhlak dalam pandangan islam. Dalam
berbagai kamus, karakter (character) dalam bahasa Arab diartikan khuluq,
sajiyyah, thab’u, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan syakhshiyyah
atau personality, artinya kepribadian. Secara etimologis, kata
karakter bisa berarti tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti
yang membedakan seseorang dengan yang lain, atau watak.[5]
Dari
beberapa pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas
atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang
merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta yang
membedakan dengan individu lain. Dengan demikian, dapat dikemukakan juga bahwa
seseorang dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan
keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta diguanakan sebagai kekutan moral
dalam kehidupannya.
Setelah kita mengetahui pengertian dari karakter, selanjutnya membahas
mengenai pendidikan karakter, menurut Ratna Megawangi adalah sebuah usaha untuk
mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan
mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan
kontribusi yang positif kepada lingkunganya.[6]
Dalam buku Pendidikan Karakter
Prespektif Islamditerangkan bahwa pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan
pendidikan moral dan pendidikan akhlak bertujuan membentuk pribadi anak, supaya
menjadi manusia, warga masyarakat, dan warga Negara yang baik. Oleh karena itu,
pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan
yang berusaha membina kepribadian generasi muda.[7]
MenurutMuchlas Samani dan Hariyantoyang mengutip dari
pendapat Lickona
mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk
membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti
nilai-nilai etis. Sedangkan menurut Scerenko mengatakan bahawa pendidikan karakter
dapat dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana cirri
kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui
keteladanan, kajian (sejarah, dan biografi para bijak dan pemikir besar), serta
praktik emulasi (usaha yag maksimal untuk mewujudka hikmah dari apa-apa yang
diamati dan dipelajari).[8]
Ada
juga ahli yang menyebutkan bahwa pendidikan karakter adalah suatu sistem
menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen
pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesame manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.[9]
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah
segala sesuatu yang dilakukan oleh guru untuk mempengaruhi karakter peserta
didik.Guru membantu dalam membentuk watak peserta
didik dengan cara memberikan keteladanan, cara berbicara atau menyampaikan
materi yang baik, toleransi dan berbagai hal yang terkait lainnya.[10]
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter
merupakan upaya-upaya yang dirangcang dan dilaksanakan secara sistematis untuk
membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan
dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan
kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, pekataan, dan
perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tatakrama, budaya dan adat
istiadat sehingga menjadikan manusia seutuhnya. Dengan melibatkan beberapa
aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).
3.
Pendidikan
Islam ditransformasikan Menuju Pendidikan Islam Berkarakter
Secara
konseptual pendidikan islam sebenarnya sudah cukup kaya dan sempurna sebab
ingin membentuk pribadi muslim sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat, meskipun lebih cenderung normatif.[11]
Sebab, dalam realitasnya, praktik pendidikan Islam cenderung ‘idealis’ dan
kurang bersentuhan dengan problem realitas-empirik. Hal ini antara lain disebabkan
oleh adanya anggapan bahwa segala aktifitas hidup umat Islam, termasuk
pendidikan, harus didasarkan pada wahyu yang given dari Tuhan dalam pengertian
harfiah sehingga cenderung kurang melihat aspek realitas yang empirik.
Karena
itu, wajar jika formulasi tentang konsep pendidikan Islam relatif idealis dan
kurang ‘membumi’, kurang bersentuhan dengan problem realitas.Padahal, sosok Nabi sendiri yang dijadikan sebagai
model bagi pendidikan Islam jelas-jelas terlibat langsung dalam penyelesaian
problem di masyarakat.
Karena
itu, jika paradigma pendidikan kritis diterima dengan beberapa penyesuaian,
maka yang perlu dipikirkan adalah tindak lanjut secara praktis, mulai dari
perumusan orientasi pendidikan Islam, pembaharuan kurikulum, penyiapan sumber
daya manusia, diversifikasi strategi pembelajaran, perubahan model evaluasi,
evaluasi kebijakan, dan perubahan manajemen di lembaga pendidikan mulai dari
tingkat dasar sampai pendidikan tinggi. Berbagai komponen ini perlu dikaji
secara terpadu, simultan, dan komprehensif. Hal ini tidak hanya menjadi
tanggung jawab praktisi pendidikan Islam saja, namun semua stakeholder
pendidikan harus dilibatkan, mulai dari tenaga kependidikan di lembaga
pendidikan formal, peserta didik, alumni, pengguna alumni, orang tua, tokoh
masyarakat, kalangan LSM, akademisi, dan pejabat pemerintah terkait. Sebab,
proses pendidikan tidak dapat berjalan secara linear dan monolitik, namun
secara sirkular dan melibatkan banyak komponen.
Dalam hal
orientasi, pendidikan Islam seharusnya tidak sekedar membentuk kesalehan
individual semata, atau kesadaran mistik dalam perspektif Iqbal, namun harus
membentuk kesalehan sosial juga. Sebagaimana disinyalir Iqbal pada awal abad
ke-20 dan hingga sekarang masih terasa, umat Islam di dunia Timur cenderung
mengedepankan kesadaran mistik dan kesalehan individual yang diibaratkan dengan
larut dengan tasbih, yang penting selamat di akhirat, sementara problem sekitar
tidak begitu dipikirkan.[12]
Untuk itu, orientasi pendidikan harus diarahkan untuk membentuk individu muslim
yang mempunyai kesadaran kenabian dengan karakter emansipatif, liberatif dan
transendental yang mampu membaca problem empirik di sekitarnya sehingga ia
mampu terlibat dalam penyelesaian problem. Tetapi, di sisi lain, dia juga mampu
menyelesaikan setiap problem yang menimpanya.
Dengan
adanya transformasi menuju pendidikan islam berkarakter diharapkan mampu
mencetak dan membentuk peserta didik yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter, yang mengandung komponen
pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga akan terwujud
insan kamil.
D.
SIMPULAN
Transformasipendidikan islam, merupakan
transformasi berupa perubahanaturan main dalam hal konsep dan praktek. Walaupun
begitu dalam kenyataannya pendidikan islam belum mampu melakukan transformasi
tersebut, dengan masih banyaknya akhlak peserta didik yang semakin berkurang.
Pendidikan karakter
merupakan upaya-upaya yang dirangcang dan dilaksanakan secara sistematis untuk
membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan
dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan
kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, pekataan, dan
perbuatan.
Transformasi menuju pendidikan islam berkarakter
diharapkan mampu mencetak dan membentuk peserta didik yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter, yang
mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan
dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga
akan terwujud insan kamil.
E.
PENUTUP
Demikianlah karya ilmiah
ini penulis buat, semoga bisa memberi manfaat kepada orang-orang yang
membacanya. Kritik dan saran yang membangun selalu penulis tunggu, karena karya
saya jauh dari sempurna.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Munir Mulkhan. Paradigma
Intelektual Muslim : Pengantar Filsafat Pendidikan dan Dakwah, Yogyakarta
: SIPRESS. 1993.
Azyumardi Azra, Pendidikan
Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta, Logos,
1999.
Hamdani Hamid dan Beni
Ahmad, Pendidikan Karakter Prespektif Islam, Pustaka Setia, Bandung,
2013.
Jamal Makmur Asmani, Buku
Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, DIVA Press,
Jogjakarta, 2011.
K.G. Saiyidain, “Progressive
Trends in Iqbal’s Thought” in Eminent Scholars, Iqbal as A Thinker, Lahore: Sh. Muhammad
Ashraf, 1991
Muchlas Samani dan
Hariyanto, Konsep dan ModelPendidikan Karakter, Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2013.
Nurla
Isna Aunillah, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah,Laksana,
Jogjakarta, 2011.
Ratna Megawangi, Pendidikan
Karakter, Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa, Indonesia Heritage
Foundation, Bogor, 2004.
Syamsul Nizar, Filsafat
Pendidikan Islam;Pendekatan Historis, Teoritis, Praktis, Jakarta: Ciputat
Pers, 2002.
Widodo Supriyono, “Ilmu
Pendidikan Islam Teoritis dan Praktis”, dalam Ismail S.M,(eds), Paradigma
Pendidikan Islam, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2001
[1] Abdul Munir Mulkhan. Paradigma Intelektual Muslim : Pengantar
Filsafat Pendidikan dan Dakwah, Yogyakarta : SIPRESS. 1993, hlm. 237.
[2] Syamsul Nizar, Filsafat
Pendidikan Islam;Pendekatan Historis, Teoritis, Praktis, Jakarta: Ciputat
Pers, 2002, hlm. 34.
[3] Widodo
Supriyono, “Ilmu Pendidikan Islam Teoritis dan Praktis”, dalam Ismail S.M,
(eds), Paradigma Pendidikan
Islam, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2001,
hlm. 37
[11]Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, 1999, 90-93.
[12]K.G. Saiyidain, “Progressive Trends in Iqbal’s
Thought” in Eminent Scholars, Iqbal as A Thinker, Lahore: Sh. Muhammad
Ashraf, 1991, 56.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar