Selasa, 13 Mei 2014



TRANSFORMASI PENDIDIKAN ISLAM MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERKARAKTER


Karya Tulis Ilmiah



 





Oleh :
                 Nama   : Zadit Taqwa
                   NIM     : 112 311

 


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH
TAHUN 2014
TRANSFORMASI PENDIDIKAN ISLAM MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERKARAKTER
A.    PENDAHULUAN
Pada zaman yang semakin maju dan berkembang, memberi banyak sekali kontribusi dalam perkembangan dunia pendidikan saat ini.Seperti halnya contoh berkembangnya teknologi sehingga memudahkan seorang pendidik, peserta didik mengakses sebuah materi melalui internet.Ini menunjukkan bahwa perkembangan zaman mampu berperan positif dalam pendidikan. Tetapi perkembang pesatnya zaman juga memberi banyak masalah-masalah baru dalam pendidikan tersebut,  pada hakikatnya kalau kita membicarakan masalah pendidikan tidak beda dengan masalah yang dialami oleh manusia, sebab pendidikanmerupakan hasil pemikiran yang dilakukan oleh dan untuk manusia guna mencapaiaktualisasi diri di dunia. Sebagai produk pemikiran manusia, pendidikan bersifat relativedan sangat tergantung pada kemampuan dan kualitas perumusnya. Di sisi lain, sebaik apapun hasil pemikiran manusia tentang pendidikan bersifatrelatif, sebab ia sangat tergantung pada konteks sosial dan tingkat pengalaman danpengetahuan manusia, sementara manusia sendiri bersifat terbatas.
Pendidikan merupakan proses yang dilakukanoleh setiap individu menuju ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensikemanusiaannya, sampai-sampai ada hadist yang menyuruh manusia untuk mencari pendidikan sampai negeri Cina. Dalam Islampendidikan diperlukan untuk membantu meneguhkan eksistensi dalam mengembanfungsi 'abid dan khalifah. Eksistensi manusia sangat ditentukan oleh sejauh mana iamampu menjalankan kedua fungsi tersebut. Selain itu, pendidikan pada hakikatnyamerupakan proses untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu,semua unsur-unsuryang ada dalam praktek pendidikan mestinya selalu memperhatikanhakikat manusia sebagai makhluk yang unik dan multidimensional, baik sebagaimakhluk Tuhan dengan fitrah yang dimiliki, sebagai makhluk individu yang khasdengan berbagai potensinya, dan sebagai makhluk sosial yang hidup dalam realitassosial yang majemuk. Untuk itu, pemahaman yang utuh tentang karakter manusiaharus dilakukan sebelum proses pendidikan dilaksanakan.
Namun demikian, dalam realitasnya banyak praktek pendidikan yang tidaksesuai dengan misi di atas. Dalam prakteknya, pendidikan tidak berfungsi sebagaiproses transformasi pada diri peserta didik dan masyarakat. Bahkan, praktekpendidikan seringkali menjadi biang terjadinya problem sosial. Hal ini antara laindapat dilihat dari adanya kenyataan bahwa proses pendidikan yang ada cenderungberjalan monoton, indoktrinatif, sentralistis, mekanis,verbalis, kognitif, dan misi pendidikan telah misleading. Tidak heran jika ada kesanbahwa praktek dan proses pendidikan Islam steril dari konteks realitas, sehingga tidakmampu memberikan kontribusi yang jelas terhadap berbagai problem yang muncul.Praktek pendidikan Islam yang dianggap misleading ini merupakan bukti bahwa belumada pemahaman yang memadai tentang konsep dan implementasi pendidikan Islamdalam era kontemporer.Pendidikan Islam banyak mengalami reduksi, baik dari aspekmakna maupun prakteknya.
Dan baru-baru ini banyak berita yang mencengangkan dan menyedihkan, yaitudengan banyaknyaberita dan kasus pendidik atau guru yang melakukan perbuatan yang tidak pantas seperti halnya melakukan perbuatan sodomi kepada siswanya. ini menggambarkan bagaimana semakin kritis akhlak seorang pendidik, padahal pendidik atau guru adalah figur bagi seorang siswa, istilah guru dalam orang jawa kepanjangannya adalah “digugu lan ditiru”, bagaimana kita meniru mereka kalau akhlak mereka sepeti itu.
Dari permasalahan tersebut maka untuk menanggulangi akhlak yang semakin rapu dan hilang, dunia pendidikan mencoba melakukan trobosan dengan menggunakan pendidikan berkarakter.Karena melihat realitas sekarang ini pendidikan yang hanya mementingkan kognitif semata, pada selain kognotif yang tidak kalah pentingnya adalah ranah afeksi sehingga nantinya dapat dituangkan melalui ranah psikomotor. Dari latar belakang tersebut penulis akan membahas mengenai Transformasi Pendidikan Islam Menuju Pendidikan Islam Berkarakter.

B.     RUMUSAN MASALAH
Untuk membatasi permasalahan yang dibahas dan tidak melebar kepermasalahan yang tidak diinginkan, penulis menyusun beberapa rumusan masalah, yaitu :
1.      Apa pengertian transformasi pendidikan islam ?
2.      Apa pengertian pendidikan karakter ?
3.      Bagaimana pendidikan islam ditransformasikan menuju pendidikan berkarakter ?

C.    PEMBAHASAN
1.      Pengertian Transformasi Pendidikan Islam
Pendidikan Islam mempunyai cita-cita yaitu terbentuknya manusia yang beriman, cerdas, kreatif, dan memiliki keluhuran budhi.Tugas utama pendidikan adalah upaya secara sadar untuk mengantarkan manusia pada cita-cita tersebut, dan pendidikan Islam juga memiliki fungsi mengarahkan kehidupan dan keberagamaan manusia kearah kehidupan Islami yang ideal.[1]
Jika upaya pendidikan mengalami kegagalan dalam mengantarkan manusia kearah cita-cita manusiawi yang bersandar pada nilai-nilai ke-Tuhanan, maka yang akan terjadi adalah tumbuhnya prilaku-prilaku negatif dan destruktif, seperti kekerasan, radikalisme, fundamentalisme, dan terorisme, juga ketidakpedulian sosial, pada realitasnya sekarang ini perilaku-perilaku negatif tersebut sudah semakin banyak, ini menunjukkan bahwa pendidikan islam belum berhasil.
Padahal dalam konteks inilah, pendidikan Islam sebagai salah satu media penyadaran umat, dihadapkan pada problem begaimana mengembangkan sebuah pola pendidikan yang transformatif, sebuah pola pendidikan yang mampu memberikan pemahaman dan transformasi pembelajaran yang tidak saja bertumpu pada transfer pengetahuan saja (kognitif), tetapi juga transef nilai (afeksi). Pendidikan transformatif juga menghasikan akan pola pembelajaran yang hanya berpusat pada guru (teacher centerd), tetapi lebih pada pola pembelajaran yang memberikan “ruang” bagi peserta didik untuk lebih mengaktualisasikan potensi akademisnya secara maksimal.
Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan sebuah dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam konteks ini dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat menghantarkan peserta didik kearah pencapaian pendidikan.[2]
Adapun landasan dasar pendidikan Islam utamanya terdiri atas tiga macam, yaitu :
a.       al-Quran
al-Quran sebagai kitab undang-undang, hujjah, dan petunjuk selayaknya kalau didalamnya mengandung banyak hal menyangkut segenap kehidupan manusia.
b.      as Sunah
As Sunah adalah semua sabda atau perbuatan Rasulullah SAW atau persetujuan beliau terhadap perkataan atau perbuatan sahabatnya karena dinilainya baik.As Sunah dijadikan sebagai landasan dasar pendidikan Islam yang kedua Karena Rasulullah SAW meletakkan pendidikan Islam semenjak beliau diangkat menjadi utusan Allah.misalnya beliau telah mengajarkan cara membaca dan menghafalkan kitab suci al-Quran beserta pengalamannya. Mendidik wudlu, solat, dzikir dan berdoa.Dan sebagainya.[3]
c.       Ijtihad
Ijtihad sebagai landasan dasar yang dimaksud adalah usaha-usaha pemahaman yang serius dari kaum muslimin terhadap al-Quran dan as Sunah sehingga memunculkan kreativitas yang cemerlang di bidang pendidikan Islam.Atau bahkan karena adanya tantangan zaman dan desakan kebutuhan sehingga melahirkan ide-ide fungsional yang gemilang.[4]
Transformasi pendidikanislam, merupakan transformasi berupa perubahanaturan main dalam hal konsep dan praktek. Walaupun begitu dalam kenyataannya pendidikan islam belum mampu melakukan transformasi tersebut, dengan masih banyaknya akhlak peserta didik yang semakin berkurang.

2.      Pengertian pendidikan karakter
Menurut Hamdani Hamid dan Beni Ahmad yang dikutip dari Fuad Wahab istilah karakter sama dengan istilah akhlak dalam pandangan islam. Dalam berbagai kamus, karakter (character) dalam bahasa Arab diartikan khuluq, sajiyyah, thab’u, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan syakhshiyyah atau personality, artinya kepribadian. Secara etimologis, kata karakter bisa berarti tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, atau watak.[5]
Dari beberapa pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain. Dengan demikian, dapat dikemukakan juga bahwa seseorang dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta diguanakan sebagai kekutan moral dalam kehidupannya.
Setelah kita mengetahui pengertian dari karakter, selanjutnya membahas mengenai pendidikan karakter, menurut Ratna Megawangi adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkunganya.[6]
Dalam buku Pendidikan Karakter Prespektif Islamditerangkan bahwa pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak bertujuan membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia, warga masyarakat, dan warga Negara yang baik. Oleh karena itu, pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan yang berusaha membina kepribadian generasi muda.[7]
MenurutMuchlas Samani dan Hariyantoyang mengutip dari pendapat Lickona mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Sedangkan menurut Scerenko mengatakan bahawa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana cirri kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian (sejarah, dan biografi para bijak dan pemikir besar), serta praktik emulasi (usaha yag maksimal untuk mewujudka hikmah dari apa-apa yang diamati dan dipelajari).[8]
Ada juga ahli yang menyebutkan bahwa pendidikan karakter adalah suatu sistem menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.[9]
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru untuk mempengaruhi karakter peserta didik.Guru membantu dalam membentuk watak peserta didik dengan cara memberikan keteladanan, cara berbicara atau menyampaikan materi yang baik, toleransi dan berbagai hal yang terkait lainnya.[10]
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirangcang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, pekataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tatakrama, budaya dan adat istiadat sehingga menjadikan manusia seutuhnya. Dengan melibatkan beberapa aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).

3.      Pendidikan Islam ditransformasikan Menuju Pendidikan Islam Berkarakter
Secara konseptual pendidikan islam sebenarnya sudah cukup kaya dan sempurna sebab ingin membentuk pribadi muslim sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, meskipun lebih cenderung normatif.[11] Sebab, dalam realitasnya, praktik pendidikan Islam cenderung ‘idealis’ dan kurang bersentuhan dengan problem realitas-empirik. Hal ini antara lain disebabkan oleh adanya anggapan bahwa segala aktifitas hidup umat Islam, termasuk pendidikan, harus didasarkan pada wahyu yang given dari Tuhan dalam pengertian harfiah sehingga cenderung kurang melihat aspek realitas yang empirik.
Karena itu, wajar jika formulasi tentang konsep pendidikan Islam relatif idealis dan kurang ‘membumi’, kurang bersentuhan dengan problem realitas.Padahal, sosok Nabi sendiri yang dijadikan sebagai model bagi pendidikan Islam jelas-jelas terlibat langsung dalam penyelesaian problem di masyarakat.
Karena itu, jika paradigma pendidikan kritis diterima dengan beberapa penyesuaian, maka yang perlu dipikirkan adalah tindak lanjut secara praktis, mulai dari perumusan orientasi pendidikan Islam, pembaharuan kurikulum, penyiapan sumber daya manusia, diversifikasi strategi pembelajaran, perubahan model evaluasi, evaluasi kebijakan, dan perubahan manajemen di lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi. Berbagai komponen ini perlu dikaji secara terpadu, simultan, dan komprehensif. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab praktisi pendidikan Islam saja, namun semua stakeholder pendidikan harus dilibatkan, mulai dari tenaga kependidikan di lembaga pendidikan formal, peserta didik, alumni, pengguna alumni, orang tua, tokoh masyarakat, kalangan LSM, akademisi, dan pejabat pemerintah terkait. Sebab, proses pendidikan tidak dapat berjalan secara linear dan monolitik, namun secara sirkular dan melibatkan banyak komponen.
Dalam hal orientasi, pendidikan Islam seharusnya tidak sekedar membentuk kesalehan individual semata, atau kesadaran mistik dalam perspektif Iqbal, namun harus membentuk kesalehan sosial juga. Sebagaimana disinyalir Iqbal pada awal abad ke-20 dan hingga sekarang masih terasa, umat Islam di dunia Timur cenderung mengedepankan kesadaran mistik dan kesalehan individual yang diibaratkan dengan larut dengan tasbih, yang penting selamat di akhirat, sementara problem sekitar tidak begitu dipikirkan.[12] Untuk itu, orientasi pendidikan harus diarahkan untuk membentuk individu muslim yang mempunyai kesadaran kenabian dengan karakter emansipatif, liberatif dan transendental yang mampu membaca problem empirik di sekitarnya sehingga ia mampu terlibat dalam penyelesaian problem. Tetapi, di sisi lain, dia juga mampu menyelesaikan setiap problem yang menimpanya.
Dengan adanya transformasi menuju pendidikan islam berkarakter diharapkan mampu mencetak dan membentuk peserta didik yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.

D.     SIMPULAN
Transformasipendidikan islam, merupakan transformasi berupa perubahanaturan main dalam hal konsep dan praktek. Walaupun begitu dalam kenyataannya pendidikan islam belum mampu melakukan transformasi tersebut, dengan masih banyaknya akhlak peserta didik yang semakin berkurang.
Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirangcang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, pekataan, dan perbuatan.
Transformasi menuju pendidikan islam berkarakter diharapkan mampu mencetak dan membentuk peserta didik yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.

E.     PENUTUP
Demikianlah karya ilmiah ini penulis buat, semoga bisa memberi manfaat kepada orang-orang yang membacanya. Kritik dan saran yang membangun selalu penulis tunggu, karena karya saya jauh dari sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Munir Mulkhan. Paradigma Intelektual Muslim : Pengantar Filsafat Pendidikan dan Dakwah, Yogyakarta : SIPRESS. 1993.
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta, Logos, 1999.
Hamdani Hamid dan Beni Ahmad, Pendidikan Karakter Prespektif Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2013.
Jamal Makmur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, DIVA Press, Jogjakarta, 2011.
K.G. Saiyidain, “Progressive Trends in Iqbal’s Thought” in Eminent Scholars, Iqbal as A Thinker, Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1991
Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan ModelPendidikan Karakter, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013.
Nurla Isna Aunillah, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah,Laksana, Jogjakarta, 2011.
Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter, Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa, Indonesia Heritage Foundation, Bogor, 2004.
Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam;Pendekatan Historis, Teoritis, Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
Widodo Supriyono, “Ilmu Pendidikan Islam Teoritis dan Praktis”, dalam Ismail S.M,(eds), Paradigma Pendidikan Islam, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2001


[1] Abdul Munir Mulkhan. Paradigma Intelektual Muslim : Pengantar Filsafat Pendidikan dan Dakwah, Yogyakarta : SIPRESS. 1993, hlm. 237.
[2] Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam;Pendekatan Historis, Teoritis, Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002, hlm. 34.
[3] Widodo Supriyono, “Ilmu Pendidikan Islam Teoritis dan Praktis”, dalam Ismail S.M,
(eds), Paradigma Pendidikan Islam, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2001,
hlm. 37
[4]Ibid.,hlm. 38
                [5]Hamdani Hamid dan Beni Ahmad, Pendidikan Karakter Prespektif Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2013, hlm. 30-31.
                [6] Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter, Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa, Indonesia Heritage Foundation, Bogor, 2004, hlm. 95.
                [7]Hamdani Hamid dan Beni Ahmad, Op Cit. hlm. 33-34.
                [8] Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan ModelPendidikan Karakter, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013,hlm. 44-45.
                [9]Nurla Isna Aunillah, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah, Laksana, Jogjakarta, 2011, hlm. 18.
                [10] Jamal Makmur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, DIVA Press, Jogjakarta, 2011, hlm. 31.
[11]Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, 1999, 90-93.
[12]K.G. Saiyidain, “Progressive Trends in Iqbal’s Thought” in Eminent Scholars, Iqbal as A Thinker, Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1991, 56.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar